Dear, Rendi Wijaya

Kita bertemu, pada suatu momen yang tak pernah kuduga. Kita memulai segalanya dengan sebuah percakapan ringan, aku demam tinggi, kamu datang. Kita berbincang lebih sering dan lebih lama setelahnya.Aku ini aneh, rumit dan amat sulit dimengerti. Kamu paham itu, tapi dengan tabah belajar memahami. Kita saling belajar membaca, seperti anak kecil yang mengeja hingga perlahan fasih mengucap kata, seperti itu kita membaca perasaan satu sama lain.

Aku tahu bahwa banyak rasamu yang belum jelas kubaca, tapi aku tak pernah berhenti mencoba. Selisih, debat, diskusi, emosi, kita lewati dan bahkan beberapa kali meledak. Tapi tetap lebih banyak dukungan, perhatian dan rindu yang saling kita tukar.

Aku ingin mengucapkan terima kasih telah mengizinkanku tinggal. Aku juga ingin meminta izin, untuk dapat membacamu lebih fasih lagi, untuk dapat menemanimu lebih lama lagi. Aku mencintaimu -tentu kamu tahu- dan untuk itu aku menuliskanmu.

Mari menyusun mimpi, menyusun langkah untuk kembali berjalan dan mendukung. Sekali lagi, meski kamu sudah mengetahuinya aku tetap perlu mengingatkan bahwa aku mencintaimu. Demikian.

Nb: Kalau lelah, jangan lupa untuk saling mengingatkan agar beristirahat dalam pelukan.

Saat hujan dengan rindu yang tak tahu diri

-12032016-

Dari anak kecil yang mencintaimu dengan bawel dan rewel,

N


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s